Bupati Tanah Bumbu Dorong Pelestarian Budaya
Dewa Case – Di tengah laju pembangunan infrastruktur dan transformasi digital yang masif, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, tetap meneguhkan posisinya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur warisan leluhur. Bupati Tanah Bumbu secara konsisten menyuarakan pentingnya pelestarian budaya bukan sekadar sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa dan identitas daerah yang tak ternilai harganya. Bagi Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, budaya adalah jiwa yang menghidupkan interaksi sosial dan menjadi daya tarik pariwisata yang berkelanjutan.
Bupati Tanah Bumbu Dorong Pelestarian Budaya
Bupati menekankan bahwa di era globalisasi yang tanpa sekat, generasi muda sangat rentan terpapar budaya asing yang belum tentu selaras dengan norma lokal. Oleh karena itu, pelestarian budaya melalui jalur pendidikan dan kegiatan komunitas menjadi prioritas utama. Bupati mendorong agar seni tari tradisional, musik panting, hingga madihin kembali digalakkan di sekolah-sekolah dan desa-desa. Dengan mengenalkan budaya sejak dini, anak-anak di Tanah Bumbu diharapkan memiliki kebanggaan atas jati dirinya sebagai putra daerah.
“Budaya adalah investasi masa depan,” ujar Bupati dalam berbagai kesempatan. Langkah konkret yang diambil adalah dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi para pegiat seni untuk mengekspresikan karyanya. Pemerintah daerah berkomitmen untuk menyediakan panggung-panggung apresiasi yang layak, sehingga ekosistem budaya di Tanah Bumbu tetap hidup dan berkembang mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Mappanre Ri Tasi: Simbol Harmoni Manusia Dan Alam
Salah satu perwujudan nyata dari dorongan Bupati dalam pelestarian budaya adalah penyelenggaraan ritual adat Mappanre Ri Tasi (pesta laut) di Pagatan. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang paling ikonik di Tanah Bumbu. Bupati memastikan bahwa festival ini dikemas dengan standar nasional namun tetap mempertahankan sakralitas ritualnya. Melalui pesta laut ini, Bupati ingin menyampaikan pesan penting tentang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang melimpah serta pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, tetapi juga menjadi sarana pemersatu keberagaman etnis di Tanah Bumbu. Bupati memandang kebudayaan sebagai instrumen integrasi sosial yang efektif. Di Tanah Bumbu, keragaman suku mulai dari Banjar, Bugis, Jawa, hingga Dayak hidup berdampingan secara harmonis, dan festival budaya menjadi titik temu di mana perbedaan tersebut dirayakan sebagai kekayaan bersama.
Integrasi Budaya Dan Ekonomi Kreatif
Lebih jauh lagi, Bupati Tanah Bumbu mendorong agar pelestarian budaya mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Pengembangan industri kreatif berbasis budaya, seperti kerajinan Tenun Pagatan, terus mendapatkan dukungan melalui pelatihan dan akses permodalan. Bupati kerap kali tampil menggunakan produk lokal dalam agenda kedinasan sebagai bentuk kampanye nyata untuk mencintai produk dalam negeri dan produk berbasis budaya daerah.
Dengan mengintegrasikan budaya ke dalam sektor ekonomi kreatif, para pengrajin dan seniman mendapatkan insentif ekonomi untuk terus berkarya. Hal ini menciptakan siklus yang sehat: budaya terjaga, dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Pemerintah daerah juga mulai menjajaki digitalisasi promosi budaya agar warisan Tanah Bumbu dapat dikenal lebih luas secara global melalui platform media sosial dan museum digital.
Kesimpulan: Komitmen Tanpa Henti
Langkah Bupati Tanah Bumbu dalam mendorong pelestarian budaya adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan sinergi dari semua pihak. Dengan visi yang jelas, Bupati optimis bahwa Tanah Bumbu dapat tumbuh menjadi daerah yang modern namun tetap memiliki akar budaya yang kuat. Pelestarian ini adalah janji kepada generasi mendatang agar mereka tetap bisa melihat, merasakan, dan membanggakan kekayaan tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu mereka.
