Dialog Publik, Begini Penilaian Gen Z Sumut tentang Politik dan PDIP
DEWA CASE — Generasi muda, khususnya mahasiswa, menolak dijadikan alat politik oleh partai-partai. Mereka juga menampik disebut apatis dengan politik. Menurut mereka, alasan menghindari dunia politik lebih kepada pengalaman buruk, dimana janji-janji politik sering tidak direalisasikan.
Hal itu mengemuka dalam dialog publik “PDIP di Mata Anak Muda” yang digelar dalam rangkaian Konferda VI DPD PDIP Sumut, di Le Polonia Hotel, Medan, Selasa (18/11/2025)
Salah seorang peserta yang juga seorang mahasiswa mengaku, mereka baru akan dijejali dengan isme-isme politik, saat menjelang Pemilu. Namun setelah terpilih apa yang dijanjikan lebih sering tidak ditepati dan mereka dilupakan begitu saja.
Sumatera Utara menjadi salah satu provinsi yang menunjukkan dinamika politik menarik, terutama dengan munculnya generasi muda atau Gen Z sebagai kelompok pemilih potensial. Baru-baru ini, sebuah dialog publik digelar untuk mendengarkan pandangan Gen Z Sumut tentang kondisi politik saat ini, termasuk penilaian mereka terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai salah satu partai besar di Indonesia.
Dialog publik yang digelar di Medan ini menghadirkan puluhan mahasiswa, pemuda aktif, dan komunitas digital yang tergolong dalam generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membuka ruang aspirasi generasi muda terhadap dunia politik, sekaligus melihat sejauh mana persepsi mereka terhadap partai politik utama, program pemerintah, dan isu-isu sosial yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Dalam dialog tersebut, banyak peserta menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas partai politik. Gen Z Sumut cenderung kritis terhadap janji politik yang tidak terealisasi dan praktik politik yang dinilai tidak selaras dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa peserta mengaku merasa skeptis terhadap politik konvensional karena sering kali terkesan jauh dari aspirasi rakyat, terutama isu-isu terkait pendidikan, lapangan kerja, dan kesejahteraan sosial.
Terkait PDIP, pandangan peserta beragam. Sebagian mengapresiasi sejarah panjang partai ini dalam kancah politik nasional dan beberapa program pro-rakyat yang pernah diinisiasi. Mereka menilai PDIP memiliki pengalaman dan jaringan politik yang kuat, sehingga mampu menggerakkan kebijakan nasional. Namun, sejumlah peserta juga menyampaikan kritik, terutama soal persepsi tentang politik pragmatis dan dinasti politik yang kerap muncul di media. Gen Z Sumut berharap partai besar seperti PDIP bisa lebih mendekatkan diri kepada generasi muda dengan program-program yang relevan dan inovatif, termasuk memberikan ruang partisipasi aktif bagi pemuda dalam pengambilan keputusan.
Selain PDIP, dialog publik juga membahas persepsi generasi muda terhadap politik digital. Para peserta menekankan bahwa media sosial dan platform daring memegang peran besar dalam membentuk opini politik mereka. Informasi yang cepat dan beragam membuat Gen Z lebih kritis dan selektif dalam menentukan pilihan politik. Mereka mengaku sering membandingkan program, rekam jejak partai, dan keaslian kampanye sebelum memutuskan dukungan.
Dialog ini juga menyoroti tingkat partisipasi politik Gen Z yang masih cenderung rendah dalam pemilu. Beberapa peserta mengaku merasa tidak mewakili aspirasi mereka di parlemen atau politik lokal, sehingga memilih bersikap pasif. Para pengamat menilai, hal ini menjadi tantangan bagi partai politik termasuk PDIP untuk lebih mendekatkan diri kepada pemilih muda, dengan cara menghadirkan program yang nyata, transparan, dan bisa diakses melalui kanal digital.
Dalam sesi diskusi, beberapa peserta memberi saran konkret kepada PDIP dan partai lain. Pertama, memperkuat pendidikan politik di kalangan generasi muda agar mereka memahami mekanisme demokrasi dan hak suara. Kedua, membuka peluang bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam kebijakan partai atau proyek sosial yang menyentuh masyarakat. Ketiga, memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk membangun komunikasi dua arah yang lebih efektif dan interaktif.
Para pengamat politik menilai dialog publik seperti ini penting untuk mengukur tren politik di kalangan generasi muda, yang akan menjadi tulang punggung pemilih di masa depan. Generasi Z cenderung memilih berdasarkan program dan dampak nyata terhadap kehidupan mereka, bukan semata karena popularitas tokoh atau ikatan sejarah partai. Dengan mendengarkan aspirasi mereka, partai politik dapat merancang strategi yang lebih sesuai dan meningkatkan partisipasi pemilih muda dalam demokrasi.
Selain aspek program dan kebijakan, peserta dialog juga menekankan pentingnya integritas dan etika politik. Mereka berharap partai politik termasuk PDIP dapat menghadirkan pemimpin yang jujur, transparan, dan berkomitmen pada kepentingan publik. Hal ini dianggap penting untuk membangun kepercayaan generasi muda yang cenderung skeptis terhadap praktik politik lama.
Dialog publik ini menjadi cermin bahwa Gen Z Sumut memiliki kesadaran politik tinggi, kritis, dan cerdas dalam menilai partai politik. Mereka tidak lagi mudah terpengaruh oleh kampanye konvensional, tetapi mencari bukti nyata dari kinerja dan kontribusi partai terhadap masyarakat. PDIP dan partai lainnya diharapkan bisa merespons aspirasi ini dengan inovasi, keterbukaan, dan program yang nyata menyentuh kebutuhan generasi muda.
Kesimpulannya, dialog publik menunjukkan bahwa Gen Z Sumut menuntut politik yang relevan, transparan, dan inovatif, serta menilai partai besar seperti PDIP berdasarkan dampak nyata program dan integritas pengurusnya. Partisipasi aktif generasi muda diharapkan dapat mendorong demokrasi yang lebih inklusif, adaptif terhadap perubahan zaman, dan responsif terhadap aspirasi pemilih masa depan.
