Event Kreatif Kuliner Digelar di Bandung
DEWA CASE — Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota kreatif dunia dengan menggelar sebuah Event Kreatif Kuliner yang menghadirkan ratusan pelaku usaha makanan, komunitas pecinta kuliner, chef muda, hingga pelaku industri kreatif. Acara ini bukan sekadar pameran produk makanan, tetapi menjadi ruang kolaborasi yang menonjolkan kekayaan pangan lokal serta memperkenalkan konsep diplomasi rasa untuk memperluas pengaruh kuliner Indonesia di panggung internasional.
Event yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar di kawasan pusat kota Bandung dan dipadati ribuan pengunjung sejak hari pertama. Panitia menyebut total peserta mencapai lebih dari 120 tenant, mulai dari UMKM kuliner tradisional, produsen makanan inovatif, hingga pengusaha rintisan yang fokus pada produk berbahan baku lokal. Mereka menampilkan aneka kreasi baru yang memadukan bahan Nusantara dengan teknik memasak modern, seperti sambal fermentasi, dessert berbasis rempah, hingga hidangan plant-based yang memanfaatkan potensi hasil kebun Jawa Barat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Bandung, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa event ini dirancang untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi pangan lokal. Menurutnya, pemanfaatan bahan baku domestik bukan hanya soal kemandirian, tetapi juga bentuk pelestarian biodiversitas Indonesia. Ia menekankan bahwa melalui kuliner, nilai-nilai budaya bisa diangkat menjadi daya tarik wisata sekaligus identitas yang mampu bersaing dengan negara lain.
“Salah satu daya tarik utama dalam acara ini adalah zona “Diplomasi Rasa”, yakni area yang menampilkan pengalaman mencicipi pangan lokal dengan narasi budaya di baliknya. Di zona tersebut, pengunjung tidak hanya menyantap makanan, tetapi juga mendapatkan cerita tentang sejarah bahan-bahan lokal seperti sorgum, porang, keluwak, hingga aneka rempah yang telah menjadi kekuatan gastronomi Nusantara sejak berabad-abad lalu. Program ini digagas untuk memperkenalkan kuliner Indonesia dalam pendekatan edukatif yang mudah dipahami wisatawan, termasuk turis mancanegara yang hadir dalam event tersebut.”
Beberapa chef terkenal dari Bandung dan Jakarta turut memberikan demo memasak. Mereka menunjukkan bagaimana bahan lokal dapat diangkat ke level yang lebih tinggi melalui teknik plating modern, konsep fusion, dan nilai jual yang lebih kuat. Salah satu chef mempresentasikan hidangan berbahan dasar singkong yang dipadukan dengan saus rempah hasil fermentasi lokal, yang menurutnya memiliki potensi besar memasuki pasar internasional jika dikemas secara tepat. Peserta juga diajak mengikuti workshop singkat mengenai food styling, pengembangan menu berkelanjutan, serta strategi pemasaran kuliner berbasis digital.
Pelaku UMKM menjadi pihak yang paling diuntungkan melalui event ini. Selain kesempatan memperluas pasar, mereka difasilitasi untuk bertemu distributor, pemilik restoran, hingga buyer dari beberapa negara yang tengah menjajaki peluang kerja sama. Banyak dari UMKM mengaku senang karena produk mereka mendapat perhatian besar, terutama hidangan tradisional seperti peuyeum, galendo, tepung mocaf, dan beragam minuman rempah yang kini kembali populer di tengah tren hidup sehat.
Pakar gastronomi yang diundang sebagai narasumber menilai bahwa diplomasi rasa adalah strategi efektif untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia. Menurutnya, makanan merupakan bahasa universal, sehingga lebih mudah diterima tanpa hambatan budaya. Ia berharap Bandung dapat menjadi contoh bagaimana kekuatan kuliner dapat dipakai sebagai pendekatan diplomasi budaya yang halus tetapi berdampak kuat. Dengan berkembangnya wisata kuliner dan meningkatnya ekspor produk pangan lokal, potensi ekonomi yang tercipta dinilai sangat besar dan berkelanjutan.
Sementara itu, pengunjung event menyambut baik penyelenggaraan acara ini. Banyak keluarga, wisatawan dari luar kota, hingga mahasiswa memadati area festival sejak pagi. Mereka menikmati kesempatan mencicipi ratusan menu baru, mengikuti kompetisi memasak, hingga membeli produk olahan yang jarang ditemui di pasaran. Beberapa pengunjung internasional mengaku terkesan dengan keberagaman cita rasa Indonesia yang dinilai unik dan kaya akan rempah. Ada pula yang menyampaikan ketertarikan untuk membawa produk-produk lokal ini ke negara asal mereka sebagai bagian dari promosi budaya.
Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa acara seperti ini akan terus digelar secara rutin sebagai penggerak sektor ekonomi kreatif. Selain menjadi sarana promosi, event ini dipandang mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal, memperkuat jejaring antarpelaku industri, serta menciptakan peluang baru bagi generasi muda yang menekuni dunia kuliner. Di tengah meningkatnya persaingan global, inovasi dan identitas lokal menjadi kekuatan utama yang perlu terus dijaga.
Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan pelaku industri, Event Kreatif Kuliner di Bandung tahun ini dinilai sukses membuka ruang dialog budaya melalui makanan. Lebih dari sekadar festival, acara ini menjadi panggung bagi pangan lokal untuk berbicara lebih lantang di level nasional maupun internasional. Bandung kembali menegaskan diri bukan hanya sebagai kota kreatif, tetapi sebagai salah satu pusat perkembangan gastronomi Indonesia yang mampu memadukan tradisi, inovasi, dan diplomasi rasa dalam satu wadah yang inspiratif.
