Cerita Mudik ke Bima Hangat Tradisi Dan Kuliner
Dewacase.com – Bagi masyarakat perantau asal Dana Mbojo (Tanah Bima), kata “mudik” bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan sebuah ziarah rindu menuju tanah kelahiran yang kaya akan adat dan cita rasa. Perjalanan jauh melintasi jalur laut maupun udara menuju ujung timur Pulau Sumbawa ini selalu menyisakan cerita unik. Begitu kaki berpijak di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin atau Pelabuhan Bima, aroma laut yang khas dan sambutan hangat keluarga langsung menghapus segala penat perjalanan ribuan kilometer.
Mudik ke Bima adalah momen untuk kembali merajut tali silaturahmi yang sempat renggang oleh kesibukan di perantauan. Di kota yang dikenal dengan julukan “Kota Tepian Air” ini, tradisi dan kuliner menjadi dua pilar utama yang membuat momen Lebaran atau libur panjang terasa begitu istimewa dan tak terlupakan bagi siapa pun yang pulang.
Kehangatan Tradisi Dan Jejak Kuliner Tanah Para Raja
Salah satu pemandangan paling ikonik saat mudik ke Bima adalah masih lestarinya tradisi Rimpu. Bagi kaum perempuan Mbojo, menggunakan sarung tenun khas Bima (Tembe Noli) untuk menutupi kepala dan badan bukan sekadar cara berpakaian, melainkan simbol kehormatan dan ketaatan. Saat momen Lebaran, barisan perempuan ber-Rimpu yang pergi shalat Id atau berkunjung ke rumah kerabat menjadi pemandangan estetis yang penuh makna filosofis.
Budaya silaturahmi di Bima juga sangat kental dengan konsep Mbolo Ro Dapa (musyawarah dan berkumpul). Biasanya, keluarga besar akan berkumpul di rumah tertua untuk makan bersama di atas talam besar. Tidak ada sekat antara yang kaya dan miskin; semua duduk bersila di atas tikar, berbagi cerita tentang kehidupan di perantauan sambil sesekali bercanda dalam bahasa Bima yang akrab. Kehangatan inilah yang selalu dirindukan, di mana tawa dan doa menyatu dalam suasana kekeluargaan yang tulus.
Menjelajahi Kekayaan Kuliner Khas Mbojo
Mudik ke Bima tidak akan lengkap tanpa memanjakan lidah dengan kuliner lokal yang kaya akan rempah. Salah satu primadona yang wajib ada di meja makan adalah Uta Maju Puru (daging rusa bakar). Meski kini daging rusa semakin langka, tradisi mengolah daging dengan cara dibakar dan dibumbui garam serta asam ini tetap menjadi kuliner paling dicari para pemudik. Rasa gurih dan tekstur dagingnya yang khas memberikan sensasi nostalgia di setiap gigitan.
Selain itu, ada pula Sepat, sebuah masakan berkuah asam segar yang terbuat dari ikan bakar yang dicelupkan ke dalam kuah berisi terong, mangga muda, dan daun ruku. Bagi mereka yang merindukan sarapan khas, Nasi Kuning Bima dengan lauk pauk yang melimpah atau Pangaha Sinci (kue cincin) menjadi pendamping setia saat berbincang di pagi hari. Setiap hidangan di Bima seolah membawa pesan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kesederhanaan bahan alam yang diolah dengan cinta.
Menutup Perjalanan di Destinasi Wisata Alam
Setelah puas bersilaturahmi dan berwisata kuliner, pemudik biasanya menutup rangkaian libur mudik dengan mengunjungi destinasi alam yang memukau. Dari Pantai Lawata yang bersejarah hingga indahnya Pulau Kambing di tengah Teluk Bima, alam Bima menawarkan ketenangan sebelum para perantau kembali ke rutinitas kota besar.
Cerita mudik ke Bima selalu berakhir dengan janji untuk kembali lagi. Pulang ke Bima adalah tentang mengisi ulang energi jiwa melalui tradisi yang dijaga ketat dan rasa masakan ibu yang tak tertandingi. Bima bukan sekadar titik di peta, melainkan rumah tempat hati selalu menemukan jalan untuk pulang.
