Situs Berita dan Informasi Teknologi, Media Sosial, Dll.

Gadget

Drone jadi senjata andalan Ukraina untuk lawan Rusia

DEWA CASE – Ketika Rusia melancarkan invasi skala besar pada tahun 2022, angkatan udara tradisional Ukraina tidak sebanding dengan Rusia. Ukraina hanya memiliki industri pesawat tanpa awak dalam negeri yang kecil. Negara itu juga tidak memiliki rudal jarak jauh. Semua ini berarti negara itu tidak memiliki cara untuk melakukan serangan melintasi perbatasan terhadap pasukan Rusia. Kini, saat perang telah memasuki tahun kalender ketiga, Ukraina telah membangun dan memperoleh beragam pesawat terbang kendali jarak jauh atau Drone.

Dari drone yang berukuran setelapak tangan hingga drone dengan berat lebih dari 454 kilogram, Ukraina terus mengembangkan ruang lingkup dan penggunaan teknologi ini untuk memperumit dan membuat frustrasi Rusia. Dengan memanfaatkan drone yang terus dikembangkan ini Ukraina mulai mampu mengusir dan mencegah pesawat Rusia membuat serangan dekat perbatasan dan lintas batas. 

Penggunaan drone oleh Ukraina telah berevolusi seiring dengan perubahan medan perang. Di tahap awal perang Ukraina mengandalkan drone yang lebih besar seperti Bayraktar TB2 Turki untuk efek yang sangat besar. Kemampuan TB2 untuk membawa beberapa amunisi udara-ke-darat dan loiter untuk waktu yang lama memungkinkan pasukan Ukraina untuk menembus pertahanan udara Rusia dan mencapai target berat. Namun pihak Rusia mampu mendeteksi dan menembak drone dengan model yang lebih besar ini dengan lebih mudah. Ini memaksa Ukraina untuk menggunakan teknologi drone yang lebih kecil. Tapi TB2 tetap dimanfaatkan karena rangkaian sensornya dan jangkauan yang cukup besar memungkinkan operator Ukraina untuk mengumpulkan intelijen.

Drone yang lebih kecil terbukti telah memberi keuntungan bagi Ukraina untuk menyerang target. Ukraina banyak menggunakan drone murah dan siap pakai, jenis yang sama yang tersedia bagi warga sipil. Banyak dari drone “hobi” ini diperoleh melalui upaya penggalangan dana yang dinamai “dronations”. Dengan harga hanya seribu dolar per unit, drone kecil dapat dengan cepat dikumpulkan dan digunakan kembali oleh operator untuk tujuan tertentu. Misalnya, drone first-person view (FPV) yang umum digunakan untuk balapan atau pembuatan film akan dilengkapi dengan bahan peledak darurat dan diterbangkan untuk menyerang target. Drone ini dapat melakukan serangan satu arah dengan presisi tinggi dan tidak mudah diserang oleh sistem pertahanan udara Rusia. Selain itu, untuk mendukung rantai pasokan drone dan meningkatkan kemampuan pembuatan drone, Ukraina melakukan kemitraan publik-swasta. Setahun yang lalu, Ukraina memiliki tujuh produsen drone dalam negeri dan sekarang memiliki sedikitnya delapan puluh.

Trik Ukraina dengan drone kecil ini, sampai batas tertentu, berhasil menetralkan keunggulan Rusia. Rusia memiliki lebih dari 1.000 jet tempur canggih, namun jet-jet tempur itu jarang terlihat memasuki wilayah udara Ukraina karena risiko ditembak jatuh. Sementara Ukraina sanggup mengirimkan pesawat nirawaknya yang seharga $1.000 secepat mereka merakitnya dan tidak perlu khawatir kehilangan pilot.

Dan tidak hanya di udara, drone Ukraina juga menjelajah Laut Hitam. Awalnya Ukraina membangun drone laut yang pada dasarnya adalah jet ski yang diisi dengan bahan peledak. Drone tersebut sangat efektif untuk menyerang kapal-kapal Rusia di Laut Hitam. Kini Ukraina membangun drone laut mereka sendiri yang lebih canggih dan lebih kuat. Dengan menggunakan berbagai senjata, Ukraina telah menenggelamkan sekitar 25 kapal dan kapal selam Rusia.

Meski demikian, Ukraina tetap perlu waspada karena Rusia mulai beralih ke Iran untuk mendapatkan armada besar pesawat nirawak Shahed-136 yang dapat membawa 45,4 kilogram bahan peledak dalam jarak 1.931 kilometer.