Situs Berita dan Informasi Teknologi, Media Sosial, Dll.

Kuliner

Mengenal Bubur India Kuliner Ramadan Semarang

Dewa CaseKota Semarang selalu memiliki cara unik untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadan. Di antara hiruk-pikuk pasar takjil dan kemeriahan tradisi Dugderan, terdapat satu kuliner yang telah menjadi simbol persatuan dan kedermawanan selama ratusan tahun: Bubur India. Kudapan gurih ini bukan sekadar takjil biasa, melainkan warisan budaya yang hanya bisa ditemui secara autentik di Masjid Jami Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah.

Mengenal Bubur India Kuliner Khas Ramadan Di Semarang

Tradisi pembuatan Bubur India di Masjid Pekojan diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari satu abad, tepatnya sejak awal tahun 1900-an. Sesuai namanya, hidangan ini diperkenalkan oleh para pedagang dan saudagar yang berasal dari Gujarat, India, serta wilayah sekitarnya yang menetap di Semarang. Wilayah Pekojan sendiri dulunya merupakan pemukiman warga keturunan Koja (Muslim India).

Meskipun pencetusnya berasal dari India, Bubur India di Semarang telah mengalami akulturasi rasa yang menyesuaikan dengan lidah lokal Jawa. Bubur ini menjadi bukti nyata bagaimana harmoni antara etnis pendatang dan pribumi terjalin erat melalui sepiring makanan. Hingga hari ini, resep asli yang kaya akan rempah-rempah tetap dipertahankan secara turun-temurun oleh para pengurus masjid.

Keunikan Bahan Dan Aroma Rempah

Apa yang membedakan Bubur India dengan bubur ayam atau bubur sumsum pada umumnya? Jawabannya terletak pada penggunaan rempah-rempah yang melimpah. Proses pembuatannya dimulai sejak siang hari setelah salat Zuhur. Beras dimasak di dalam kuali tembaga besar menggunakan kayu bakar agar aromanya tetap terjaga.

Bumbu-bumbu yang digunakan mencakup kayu manis, jahe, serai, daun salam, cengkih, hingga kapulaga. Perpaduan rempah ini memberikan aroma yang sangat harum dan efek menghangatkan bagi tubuh setelah seharian berpuasa. Tekstur buburnya sangat lembut, hampir menyerupai bubur saring, namun kaya akan cita rasa gurih dari santan.

Setiap harinya, menu pendamping Bubur India selalu berganti agar jamaah tidak bosan. Beberapa lauk yang sering disajikan antara lain:

  • Gulai Kambing atau Sapi: Memberikan sentuhan rasa khas Timur Tengah.
  • Sayur Lodeh atau Terik: Menunjukkan sisi lokalitas Jawa yang kental.
  • Sambal Goreng: Memberikan aksen pedas yang menggugah selera.

Tradisi Berbagi Dan Kemanunggalan

Satu hal yang paling menyentuh dari Bubur India adalah semangat berbagi yang melatarbelakanginya. Setiap harinya selama Ramadan, Masjid Pekojan menyiapkan ratusan porsi bubur yang dibagikan secara gratis kepada siapa saja—mulai dari musafir, warga sekitar, hingga wisatawan yang sengaja datang untuk mencicipi kuliner legendaris ini.

Momen menjelang berbuka puasa di serambi Masjid Pekojan selalu dipenuhi kehangatan. Warga duduk berjajar rapi menghadapi piring-piring bubur yang masih mengepulkan uap panas. Di sini, tidak ada batasan status sosial; semua orang duduk setara menikmati hidangan yang sama. Tradisi ini mempertegas fungsi masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial dan kemanusiaan.

Destinasi Wisata Religi Dan Kuliner

Bagi Anda yang sedang berada di Semarang saat Ramadan, mengunjungi Masjid Pekojan untuk mencicipi Bubur India adalah agenda yang wajib masuk dalam daftar. Selain rasa yang melegenda, Anda akan merasakan atmosfer sejarah yang kental di kawasan Kota Lama dan sekitarnya.

Bubur India adalah pengingat bahwa di balik lembutnya bulir beras, tersimpan kekuatan sejarah dan doa-doa para pendahulu yang ingin menyebarkan kebaikan. Ia adalah identitas Semarang yang tak lekang oleh zaman, sebuah kuliner yang menyatukan hati melalui aroma rempah yang abadi.