Saham VSee Health Naik karena Potensi Ekspansi Layanan Kesehatan di Filipina
DEWA CASE – Saham VSee Health, Inc. (NASDAQ: VSEE) tercatat naik sebesar 4,4% pada perdagangan Kamis, setelah perusahaan teknologi telehealth asal Amerika Serikat itu menggelar pertemuan strategis dengan sejumlah pejabat Filipina untuk membahas potensi peningkatan layanan kesehatan berbasis digital di Kota Naga, Provinsi Camarines Sur.
Pertemuan tersebut melibatkan Philippine Tuberculosis Society serta mantan Wakil Presiden Filipina Leni Robredo, yang kini menjabat sebagai Walikota Naga City. Fokus utama diskusi ini adalah menjajaki penerapan platform telehealth bertenaga kecerdasan buatan (AI) milik VSee untuk memperluas akses layanan medis di wilayah perkotaan dan pedesaan Filipina.
Dalam pembahasan tersebut, para pihak menyoroti sejumlah tantangan penting yang masih dihadapi sistem kesehatan Filipina, termasuk rendahnya tingkat pemeriksaan prenatal, yang saat ini hanya mencapai 44%—jauh di bawah target 99% yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Filipina (DOH). Melalui solusi digital berbasis AI dan integrasi data pasien secara real-time, VSee diharapkan mampu membantu tenaga medis meningkatkan deteksi dini dan mempercepat layanan konsultasi jarak jauh bagi ibu hamil dan pasien di daerah terpencil.
“VSee berkomitmen untuk menghadirkan solusi teknologi yang dapat memperkuat infrastruktur layanan kesehatan, terutama di wilayah dengan keterbatasan fasilitas medis. Kami melihat potensi besar di Filipina sebagai pusat inovasi kesehatan digital di Asia Tenggara,” ujar Milton Chen, PhD, Co-CEO VSee Health, dalam keterangan resminya.
Lebih jauh, pertemuan ini juga membahas kelanjutan Project MAMA, sebuah program kesehatan ibu yang telah dijalankan VSee bersama mitra lokal sejak beberapa tahun terakhir. Program ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi dengan memberikan layanan pemeriksaan dan edukasi kesehatan berbasis telehealth kepada masyarakat di pedesaan. Selain itu, VSee juga telah menjalin kolaborasi dengan Remedi, Inc., perusahaan rintisan yang didirikan oleh alumni MIT, dalam pengembangan perangkat X-ray portabel berbasis AI untuk membantu deteksi tuberkulosis secara cepat dan akurat.
Langkah strategis VSee ini dinilai sebagai bagian dari upaya perusahaan memperluas kehadirannya di pasar digital health Asia Tenggara, yang menurut riset iMarc Group mencapai nilai US$17 miliar pada 2024 dan diperkirakan melonjak menjadi US$38,8 miliar pada 2033. Secara khusus, pasar Filipina diproyeksikan melampaui US$1 miliar pada 2027, berdasarkan data dari Statista.
Kerja sama lintas sektor ini dipandang selaras dengan visi pemerintah Filipina untuk mempercepat transformasi layanan publik melalui digitalisasi, terutama di bidang kesehatan masyarakat. Dengan dukungan teknologi telemedicine dan kecerdasan buatan, VSee berharap dapat membantu memperkecil kesenjangan antara pusat layanan kesehatan dan komunitas terpencil yang selama ini sulit dijangkau.
“Kolaborasi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kemanusiaan. Kami ingin memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang lokasi geografisnya, memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan berkualitas,” tambah Chen.
Dengan rekam jejak VSee dalam mendukung berbagai proyek kesehatan di Asia dan Afrika, langkah perusahaan ini di Filipina menandai fase ekspansi baru yang memperkuat posisi VSee sebagai salah satu pemimpin global dalam ekosistem telehealth berbasis AI.
