Situs Berita dan Informasi Teknologi, Media Sosial, Dll.

Gadget

Daerah Hari Anak Nasional, Orang Tua Pantau Kebebasan Gadget

DEWA CASELembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perlindungan dan Pemberdayaan Hak-hak Perempuan dan Anak (P2H2P) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengharapkan orang tua memantau kebebasan anak menggunakan Gadget.

Hal itu disampaikan Ketua LSM P2H2P Babel Zubaidah, dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025.

“Kebebasan penggunaan gadget di kalangan anak semakin meningkat, tapi dampak negatifnya yang harus kita atasi dan cegah, makanya perlu peran penting orang tua,” kata Zubaidah kepada RRI, Kamis (20/11/2025).

Momen ini dimanfaatkan untuk mengingatkan kembali bahwa anak adalah generasi penerus bangsa yang memerlukan dukungan penuh untuk berkembang secara optimal di bidang pendidikan, karakter, moral, serta kesehatan fisik dan mental. Tantangan baru bagi orang tua di era digital semakin kompleks, salah satunya adalah kebebasan anak dalam menggunakan gadget dan akses internet tanpa pengawasan.

Perkembangan teknologi membawa perubahan besar pada gaya hidup anak-anak Indonesia. Gadget bukan lagi menjadi barang mewah, tetapi telah berubah menjadi benda kebutuhan sehari-hari untuk belajar, berkomunikasi, dan mendapatkan hiburan. Bahkan, pembelajaran daring selama beberapa tahun terakhir semakin memperlihatkan bahwa teknologi menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang mereka.

Di berbagai daerah, survei lokal yang dilakukan oleh sekolah dan dinas pendidikan menunjukkan bahwa sebagian besar anak menghabiskan waktu antara 3 hingga 6 jam per hari menggunakan ponsel atau perangkat digital. Namun, pemanfaatan gadget ini tidak semuanya positif. Banyak anak terpapar konten dewasa, game ekstrem, perundungan online, hingga pornografi tanpa penyaringan yang memadai.

Melihat fenomena ini, pemerintah daerah menegaskan bahwa diperlukan kolaborasi serius antara sekolah, orang tua, dan komunitas masyarakat untuk memastikan bahwa penggunaan gadget memberikan manfaat positif, bukan sebaliknya.

Dalam rangka Hari Anak Nasional, sejumlah pemateri dan pembicara dari berbagai kegiatan literasi digital memberikan pesan yang sama: orang tua wajib lebih aktif memantau kegiatan digital anak-anak mereka. Pengawasan orang tua bukan berarti melarang penggunaan gadget, tetapi mengarahkan, mendampingi, dan mengajarkan batasan yang sehat.

Setidaknya ada tiga poin penting yang disampaikan dalam sesi edukasi digital kepada orang tua di beberapa daerah:

  1. Pastikan Waktu Penggunaan Terukur
    Anak dianjurkan memiliki batasan waktu penggunaan gadget per hari. Pedoman nasional dan rekomendasi WHO menyarankan anak usia sekolah tidak menggunakan gadget lebih dari 2 jam sehari untuk keperluan non-pelajaran.
  2. Kenali Konten yang Diakses Anak
    Orang tua diminta tidak hanya memeriksa perangkat anak setelah digunakan, tetapi ikut mengawasi konten yang diakses secara real time. Aplikasi parental control, pembatasan aplikasi, serta fitur filter konten di browser kini tersedia dan mudah digunakan.
  3. Bangun Komunikasi Terbuka
    Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa internet memiliki sisi baik sekaligus sisi buruk. Dengan komunikasi yang baik, orang tua dapat membangun kepercayaan agar anak mau berdiskusi jika menemukan konten negatif di internet.

Meskipun tuntutan pendampingan orang tua semakin besar, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak orang tua yang belum siap secara digital. Tidak sedikit orang tua yang kurang mengenal teknologi, fitur proteksi, bahkan tidak memahami aplikasi yang sering dipakai anak mereka.

Kondisi ini diperparah dengan kesibukan orang tua bekerja sehingga waktu bersama anak semakin terbatas. Akibatnya, gadget sering menjadi “pengasuh” instan bagi anak di rumah agar mereka tetap tenang dan tidak mengganggu aktivitas orang tua. Dalam jangka panjang, pola ini dapat melahirkan risiko kecanduan digital, isolasi sosial, kurang fokus dalam belajar, hingga dampak kesehatan seperti mata lelah dan kesulitan tidur.

Para pakar pendidikan dalam peringatan Hari Anak Nasional di sejumlah daerah menekankan pentingnya peningkatan literasi digital bagi orang tua, bukan hanya anak. Pemerintah daerah diminta hadir dengan pelatihan berkala, panduan edukasi singkat, hingga menyediakan pusat layanan konsultasi penggunaan teknologi keluarga.

Dalam momen Hari Anak Nasional, sekolah juga diharapkan tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang tua. Sekolah dapat berperan dengan beberapa langkah konkrit seperti:

  • Menyusun kurikulum literasi digital dasar untuk siswa
  • Membuat peraturan penggunaan gadget di sekolah
  • Menyelenggarakan kelas parenting untuk orang tua
  • Mendorong sistem pelaporan jika siswa terpapar konten negatif secara online

Dengan bekerja bersama, diharapkan anak dapat menikmati manfaat teknologi tanpa harus menghadapi dampak yang merugikan.

Peringatan Hari Anak Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi menjadi alarm bahwa anak Indonesia membutuhkan ekosistem pengasuhan yang sehat, termasuk dalam penggunaan gadget. Pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi agar anak tumbuh cerdas secara digital, kreatif, beretika, dan terlindungi dari ancaman dunia maya.

Melalui pengawasan yang seimbang, komunikasi terbuka, serta edukasi tentang digital safety sejak dini, anak-anak Indonesia dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan diri tanpa mengorbankan masa depan mereka.