Situs Berita dan Informasi Teknologi, Media Sosial, Dll.

Olahraga

Tanpa Finswimming di SEA Games 2025, Indonesia Bisa Juara Umum

DEWA CASEIndonesia menghadapi tantangan baru menjelang SEA Games 2025 di Thailand. Salah satu cabang olahraga selam, yaitu finswimming, tidak akan dipertandingkan dalam ajang multievent tersebut. Hal ini dikonfirmasi oleh PB POSSI yang menyatakan bahwa selam tidak masuk dalam daftar cabang SEA Games 2025

Dampak Ketidakhadiran Finswimming

  1. Kehilangan Medali Potensial

    • Di SEA Games 2023, Indonesia meraih 6 emas, 10 perak, dan 5 perunggu di nomor finswimming.

    • Tanpa kontribusi dari cabang ini, potensi medali emas Indonesia berkurang, terutama dari nomor yang sebelum ini cukup menguntungkan.

  2. Reaksi dari Federasi Selam (PB POSSI)

    • Ketua Umum PB POSSI, Komjen (Purn) Makhruzi Rahman, menyatakan bahwa pihaknya terus mendorong agar selam, termasuk finswimming, kembali dipertandingkan di multieven seperti SEA Games.

    • Mereka berupaya melalui diplomasi olahraga, termasuk menyelenggarakan kejuaraan regional agar cabang ini bisa dihidupkan kembali. 

    • KOI (Komite Olimpiade Indonesia) juga optimistis finswimming bisa kembali di SEA Games berikutnya (2027 di Malaysia, 2029 di Singapura).

  3. Mengapa Finswimming Dihapus?

    • Menurut Sekjen PB POSSI, keputusan untuk mengeluarkan cabang selam diambil oleh tuan rumah (Thailand) melalui Presidensi CMAS Thailand.

    • Hal tersebut mengecewakan untuk Indonesia, mengingat prestasi selam mereka di edisi SEA Games sebelumnya cukup baik.

Peluang Juara Umum Tanpa Finswimming

Meskipun absennya finswimming menjadi pukulan medali, ada alasan-alasan optimistis bahwa Indonesia tetap bisa bertahan di papan atas, meskipun target “juara umum” menjadi lebih sulit.

  1. Target Medali Umum yang Lebih Rendah

    • Menpora Erick Thohir menyatakan bahwa target kontingen Indonesia adalah minimal posisi ketiga di SEA Games 2025.

    • Mereka memperkirakan butuh meraih sekitar 82–90 emas agar bisa berada di posisi tersebut.

    • Proyeksi realistis dari Kemenpora/pihak terkait memperkirakan sekitar 32 emas akan diraih Indonesia di ajang mendatang.

  2. Cabang Unggulan Lain Menjadi Fokus

    • Panjat Tebing: Kemenpora optimistis cabang ini bisa menyumbang setidaknya 3 emas, meski menggunakan atlet pelapis/junior.

    • Akuatik / Renang: Pengurus Akuatik Indonesia menargetkan minimal 3 emas dari renang di SEA Games 2025.

    • Bahkan dalam renang, CdM tim Indonesia menargetkan 5 emas di SEA Games 2025.

    • Woodball: Federasi Woodball Indonesia percaya diri bisa jadi juara umum di cabang ini, dan berharap sumbangan medali cukup signifikan.

  3. Perjuangan Diplomasi untuk Cabang Selam

    • Meski tidak dipertandingkan di SEA Games 2025, PB POSSI dan KOI aktif melakukan diplomasi agar selam (finswimming) kembali diikutsertakan pada SEA Games berikutnya. 

    • Jika usaha ini berhasil, Indonesia bisa mengembalikan potensi medali dari cabang selam di masa depan.

Kesimpulan & Analisis

  • Risiko Penurunan: Hilangnya finswimming bisa menurunkan potensi medali, terutama emas, karena cabang ini selama ini memberikan kontribusi signifikan bagi kontingen Indonesia.

  • Strategi Kompensasi: Untuk menutup kekosongan tersebut, Indonesia harus mengoptimalkan cabang-cabang lain (seperti panjat tebing, renang, woodball) untuk mengejar target medali.

  • Target Realistis: Target untuk juara umum (yaitu yang paling banyak emas) menjadi jauh lebih menantang. Fokus saat ini tampaknya lebih kepada mempertahankan posisi tinggi (misalnya, top-3), bukan harus “menang keseluruhan”.

  • Masa Depan Cabang Selam: Upaya diplomasi POSSI dan KOI sangat krusial agar finswimming dapat kembali di SEA Games mendatang — kesiapan dan kolaborasi dengan negara lain akan menentukan apakah cabang ini bisa “hidup kembali” di pesta olahraga ASEAN.